Loudspeaker Line Array VXL Yamaha VXL Menghadirkan Sentuhan Manusia Terhadap Gereja St John The Evangelist

Speaker line array tipe kolom slimline VXL series dari Yamaha terbukti menjadi solusi yang sangat populer untuk rumah ibadah di mana ruang yang besar dan luas membutuhkan cakupan audio berkualitas tinggi yang terkontrol. Instalasi baru di sebuah gereja berusia 160 tahun di London menunjukkan perbedaan yang dapat dihasilkan speaker tersebut.

Gereja St John The Evangelist di Walworth, yang terletak tidak jauh di selatan Elephant & Castle, menghadapi semua tantangan akustik yang biasa terjadi pada rumah ibadah bersejarah. Di sini, solusinya juga berpotensi lebih kompleks karena gereja tersebut termasuk dalam bangunan cagar budaya. Namun integrator sistem, Flipside Soundsystem mampu menangani tugas tersebut, yang dibantu oleh speaker line array VXL Yamaha yang inovatif.

“Sistem suara yang ada sudah berusia sekitar 20 tahun, hanya sebagian yang beroperasi dan suara yang dihasilkannya kecil dan tidak jelas,” kata asisten pendeta gereja Simon Askey. “Kami lebih menginginkan sistem yang dapat memperkuat ujaran yang terdengar natural, daripada yang terdengar terproses seperti pada sistem PA umumnya, dan sistem tersebut dapat digunakan oleh mereka yang ingin menggunakan mikrofon kabel atau nirkabel.”

Direktur pelaksana Flipside James Cooper dan timnya sangat menyukai estetika St John; langit-langit kayu yang tinggi dan berkubah serta tiang-tiang besi cor yang tidak biasa memberi bangunan ini suasana keagungan dan nuansa Victoria. Untuk itu sangat penting agar jangan sampai mengganggu suasana tersebut.

“Sistem tata suara Gereja dituntut sejumlah hal. Sistem harus dibuat tidak mencolok secara visual, tetapi bisa menghasilkan tingkat kejelasan ucapan yang tinggi, sekaligus menangani ruang akustik yang seringkali sangat bergema,” katanya. “Dari segi pengendalian, sistem ini harus sangat mudah digunakan, tetapi juga aman dari tangan-tangan jahil.

“Di St John's, sistem ini utamanya akan digunakan untuk ibadah, yang berarti sistemnya akan dipakai untuk mengamplifikasi kata-kata yang diucapkan dan mungkin sedikit musik paduan suara yang diputar ulang dari waktu ke waktu. Terkadang gereja digunakan untuk grup dan pernikahan di tempat terbuka, di mana perlu memutar lebih banyak musik. Jadi kami diminta untuk merancang sistem yang utamanya digunakan di gereja, tetapi juga dapat melayani aplikasi musik, yang kemungkinan dihubungkan dengan berbagai alat musik.”

James memilih sepasang speaker line array VXL1-24 Yamaha, yang dipasang di setiap sisi lengkungan kubah disisi altar, masing-masing dengan subwoofer VXS10, yang digunakan untuk melengkapi VXL1s untuk aplikasi pemutaran musik.

Prosesor matriks MTX3 Yamaha mengambil input dari empat mikrofon kabel dan dua mikrofon nirkabel, yang semuanya dikelola oleh fitur automixing Dan Dugan dalam MTX3, yang menghilangkan kemungkinan timbulnya masalah feedback.

Kontroler tunggal yang terpasang di dinding DCP4V4S memiliki sakelar nyala/mati dan kontrol volume untuk mikrofon kabel, mikrofon nirkabel, pemutar CD, dan sepasang input sistem RCA. Bersama dengan automixing Dan Dugan, perangkat tersebut membuat kontrol sistem menjadi sangat sederhana bagi staf gereja, dengan sistem terkunci di MTX3 untuk mencegah pembobolan sistem.

“Kami ingin menggunakan speaker sesedikit mungkin, dengan secara cermat memilih speaker yang memiliki pola dispersi yang memungkinkan kami untuk menargetkan suara secara langsung di bangku dan tidak ke arah lain,” kata James. “Jajaran produk VXL Yamaha yang baru sangat brilian untuk aplikasi semacam ini dan itu berarti bahwa kami dapat mencapai tingkat desibel yang sangat mirip antara barisan depan dan belakang bangku, yang jaraknya 17 meter.”

Dengan sistem loop induksi baru yang dikirim melalui send matriks terpisah dari MTX3, orang yang menggunakan alat bantu dengar juga dapat mendapatkan manfaat dari peningkatan kualitas audio yang sama seperti yang dinikmati semua orang di St John The Evangelist.

“Kami merasa terkesan karena Flipside tidak sekedar asal menjual produk, tetapi memberikan sesuatu yang disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan tertentu kami,” kata Simon. “Sistem ini bekerja dengan baik, dengan amplifikasi suara yang terdengar lebih seperti suara manusia di teater daripada sistem PA di gereja. Hal tersebut membuat ibadah kami lebih inklusif, karena semua orang dapat mendengar... dan apa yang Anda dengar adalah intonasi alami suara manusia, yang luput pada sistem yang lama.“

“Saya juga sangat menyukai kenyataan bahwa mereka berusaha keras membuat sistem ‘tidak terlihat mencolok’di dalam bangunan.”

“Kami merasa sangat bangga dengan sistem ini,” tambah James. “ Sistem ini merupakan contoh bagaimana pendekatan yang sederhana pada audio dapat menciptakan hasil yang luar biasa bagi segala rumah ibadah, secara ekonomis!”

London, Inggris