50 Tahun Perjalanan Yamaha Musik di Indonesia

Di tahun 2020 ini, tepat 50 tahun kehadiran Yamaha Musik di Indonesia.

Semua dimulai ketika Yamaha, perusahaan asal Jepang tertarik untuk menjalin kerjasama dalam pengembangan pendidikan
popularisasi musik di Indonesia.

Dari sinilah Yamaha Musik memulai sejarah perjalanannya di Indonesia sebagai perusahaan yang ingin dapat menginspirasi
masyarakat di tanah air dan membantu mereka melangkah maju dalam mengekpresikan kepribadian, emosi dan kreativitas mereka.

Di tahun 2020 ini, tepat 50 tahun kehadiran
Yamaha Musik di Indonesia.

Semua dimulai ketika Yamaha, perusahaan asal
Jepang tertarik untuk menjalin kerjasama dalam
pengembangan pendidikan popularisasi musik
di Indonesia.

Dari sinilah Yamaha Musik memulai sejarah
perjalanannya di Indonesia sebagai perusahaan
yang ingin dapat menginspirasi masyarakat di
tanah air dan membantu mereka melangkah
maju dalam mengekpresikan kepribadian, emosi
dan kreativitas mereka.

X

Sejarah Yamaha musik di Indonesia dimulai pada tahun 1970, ketika perwakilan Yamaha Jepang, Mr. Yasuke Sato datang ke Indonesia dan bertemu Sultan Hamengkubuwono IX, Sultan Yogyakarta yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Ekonomi & Industri. Kedatangannya pada saat itu bertujuan untuk membahas kemungkinan melakukan kolaborasi dalam rangka mempopulerkan kegiatan bermusik di tanah air. 
Sri Sultan yang lebih akrab dengan aliran musik tradisional memiliki hubungan yang baik dengan Jenderal Polisi Drs. Hoegeng Imam Santoso, seorang sosok pecinta musik yang aktif di dalam komunitas musik pop pada masa itu. Beliau kemudian memperkenalkan Bapak Hoegeng yang juga dikenal dengan sebutan “The Singing General” sebagai orang yang kiranya tepat untuk diajak bekerja sama mendirikan sebuah yayasan musik di Indonesia.
Pada tahun 1971, ketika di Jakarta masih langka kursus musik, untuk pertama kalinya YAYASAN MUSIK YAMAHA menanamkan embrio-nya di bumi pertiwi, tepatnya di Jl. Hayam Wuruk, Jakarta. Di bulan Oktober 1971, YMI mulai menyelenggarakan Kursus Electone sebagai ‘modal pertama’ dengan menerima siswa dari segala umur. Langkah ini meskipun membutuhkan usaha yang keras di awal perjalanannya namun berhasil meraih simpati dari masyarakat. Hal ini terbukti dengan penyelenggaraan Kursus Gitar yang dibuka pada bulan Januari 1972. Kursus piano dan drum juga menyusul tidak lama setelahnya.
Pada tanggal 22 Desember 1972, Yamaha Music Foundation mengubah namanya menjadi YAYASAN MUSIK INDONESIA (YMI) sebagai nama resmi yang bertahan hingga sekarang.
Pada saat inilah bendera YMI mulai benar-benar berkibar di Indonesia berkat kerjasama yang makin kokoh dengan Yamaha Music Foundation Jepang. Dan mulai saat itu YMI semakin mandiri dengan langkah-langkahnya dalam melakukan usaha pendidikan musik praktis berkat sistem pendidikan musiknya yang mudah diikuti, tetapi cukup berbobot dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Seiring dengan meningkatnya berbagai aktivitas YMI, pada tahun 1973 Yamaha memulai distribusi alat-alat musik dengan rekan perusahaan lokal PT NUSANTARA MUSIK (NUSANTIK) sebagai agen tunggal dan berkegiatan di kantor yang sama dengan YMI yaitu di Jl. Bumi No. 15.
Membuat, mendidik dan menjual adalah suatu cara Yamaha dalam berusaha untuk ikut memajukan perkembangan dunia musik. Produk Yamaha dirancang secara tepat untuk memenuhi tuntutan itu. Tepat dalam mutu, harga dan kebutuhan pendidikan. Pada tanggal 27 Juni 1974 PT YAMAHA INDONESIA (YI) didirikan sebagai pabrik pertama Yamaha Musik di Indonesia.
Piano Yamaha yang beraneka ragam hadir dalam berbagai bentuk dan desain. Piano-piano tersebut tidak hanya diproduksi langsung di Jepang namun beberapa model juga telah diproduksi di Indonesia dengan teknologi dan keterampilan modern yang disesuaikan dengan kondisi iklim dan material dasar yang terdapat di Indonesia.
Awalnya PT YI memproduksi berbagai alat musik diantaranya electone, pianica dan piano. Namun kemudian PT YI mengkhususkan diri pada produksi piano.
PT YI mengutamakan produk piano dengan kualitas dan penampilan terbaik dengan mempersiapkan tenaga kerja berketerampilan tinggi terhadap teknologi dan material-material dasar pilihan melalui proses evaluasi dan pelatihan yang konsisten. PT YI memiliki perhatian yang besar terhadap kualitas sistem produksi yang sejalan dengan keamanan lingkungan.
Untuk mendukung kegiatan produksi, PT YI mengadakan berbagai aktivitas melalui Yamaha Productivity Management seperti YPM Kaizen, VSM, 5S, dan K3 yang berhubungan langsung dengan pengembangan kualitas, waktu distribusi, biaya, keselamatan dan keamanan lingkungan. Selain itu juga diadakan Sekolah Tinggi Yamaha Indonesia (STYI), olahraga dan kursus bahasa asing. Seluruh aktivitas tersebut bertujuan tidak hanya untuk proses pelestarian namun juga untuk menambah pengetahuan dan kemampuan masing-masing pekerja.
Berbeda dari negara-negara lain dimana pendidikan musik untuk anak-anak usia pra-sekolah menjadi kursus yang diutamakan, di Indonesia pembukaan Kursus Musik Anak-Anak (KMA) baru dilangsungkan pada tahun 1976 setelah kursus Electone, kursus Gitar, kursus Piano dan kursus Drum berjalan dengan baik.

Sepuluh tahun berselang sejak pendiriannya, perjalanan YMI yang bermula dari sebuah gedung perkantoran yang sederhana di Jl. Hayam Wuruk, Jakarta, tidak cukup lagi menampung kegiatan yang semakin besar. Maka kantor YMI pun kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih memadai yakni di Jalan Bumi no. 15, Jakarta Selatan.
Dari tempat inilah YMI berhasil melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru tanah air, sehingga ketika PT. Nusantik memindahkan kegiatan perkantoran nya ke Jl. Wolter Mongonsidi 11 – 13 Jakarta, YMI turut membuka kursus musik disana pada bulan September 1981, dan sampai pada masa ini telah berhasil meluaskan jaringannya sampai ke kota-kota besar di hampir seluruh penjuru tanah air yaitu sebanyak 30 sekolah musik yang tersebar di 22 kota besar.
Dan untuk menjaga kesinambungan prestasi anak-anak didiknya, YMI kemudian mengadakan berbagai kegiatan konser musik dari tingkat sekolah musik sampai tingkat nasional seperti Pesta Musik Siswa Siswi YMI dan Pagelaran Musik Karya Anak-anak Indonesia.
YMI melanjutkan usahanya untuk mengembangkan minat terhadap musik melalui pendidikan di Indonesia dengan membuka kursus PMMC (Pop Music Mate Course) di bulan Oktober 1982. Kursus ensambel musik pop ini, yang dipercayakan pengelolaannya ke Elfa Secioria, pemusik muda beken asal kota Bandung, khusus menerima siswa dalam bentuk grup berjumlah 3–8 orang.  Kursus ini menjadi favorit di kalangan pelajar dan remaja karena kursus ini tidak hanya memperluas wawasan musik, namun juga mengasah kemampuan untuk menciptakan karya sendiri dan membentuk sebuah band.
Menangkap animo popularitas musik pop yang tinggi di kalangan remaja pada masa itu, YMI bersama PT Nusantik memprakarsai sebuah kontes yang dinamakan ‘Light Music Contest’ (LMC) untuk menyalurkan antusiasme ini ke dalam sebuah kegiatan yang positif.  Acara yang diadakan di Balai Sidang, Senayan, Jakarta pada 21 Mei 1983 ini sukses membangkitkan minat kalangan remaja. Hal ini terlihat dengan melonjaknya siswa PMMC yang sebelumnya berjumlah 14 grup menjadi 31 grup.
Di tahun yang sama, tanggal 12 Maret 1983 menandai dibukanya showroom baru PT Nusantik di Jl. Panglima Polim III / 19 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Showroom baru ini adalah pengganti showroom lama yang pada tanggal 21 Desember 1982 mengalami musibah terbakar. Showroom baru berlantai dua yang nantinya diarahkan fungsinya sebagai Yamaha Music Center ini memiliki sarana-sarana yang menunjang berbagai kegiatan bermusik. Ruangan showroom menempati lantai pertama bersama service center. Lantai atas dipergunakan antara lain untuk ruangan kelas khusus Electone, Pop Music Mate Course, studio rekaman, seminar dan Audio Visual.
Showroom baru ini merupakan perwujudan cita-cita lama untuk mendirikan Yamaha Music Center meskipun baru berukuran mini. Yamaha Music Center inilah yang menjadi cikal bakal pendirian Yamaha Music Center yang kita kenal sekarang.
Sejak dirilisnya ‘Light Music Contest’ pertama, ajang ini telah menetaskan musisi-musisi yang hingga kini kita kenal sebagai Music Legend tanah air. Sebut saja band Krakatau yang menjuarai kontes ini pada tahun 1985 dan Ruth Sahanaya yang terpilih sebagai Best Vocalist pada tahun tersebut. Di tahun berikutnya, pada final Light Music Contest’ tahun 1986 Emerald Band keluar sebagai Juara Pertama melalui performa komposisi jazz fusion instrumental diantaranya "Meet at Peacock" dan "Journey to Sabang Street". Kemenangan Emerald Band diikuti oleh Spirit Band 86 sebagai Juara Kedua, Kahitna sebagai Juara Ketiga dan Trie Utami sebagai Best Vocalist. Pada tahun 1988 ‘Light Music Contest’ berubah nama menjadi Band Explosion (BEX).
Band Emerald kembali menyabet Juara I untuk tingkat Nasional dan tampil di Band Explosion wilayah Asia Oceania, dimana band tersebut mendapat penghargaan untuk The Best Bass Player(Roedyanto) dan The Best Drums Player(Cendy Luntungan).
Pada World Final Band Explosion 1988 yang perhelatannya dilaksanakan di Jepang pada 12 Februari 1989, komposisi Fusion Etnik Instrumental "Karapan Sapi" band ini sukses meraih Silver Grand Price, The Best Keyboard Player & The Best Drums Player.
Seakan mengiringi maraknya geliat bermusik di tanah air, pada tanggal 13 Maret 1989, Yamaha mendirikan PT YAMAHA MUSIC MANUFACTURING INDONESIA
(YMMI).
Mulai beroperasi pada tanggal 1 September 1990, PT YMMI memproduksi alat musik Guitar Akustik dan Elektrik, Jazz Drum, Small Instrument dan Yamaha Amplifier.
PT YMMI memulai produksinya dengan produk akustik guitar. Kemudian pada tahun 1991 sampai sekarang, jajaran produknya meluas dengan memproduksi elektrik gitar, amplifier gitar, drum dan hardware yang telah di ekspor ke 60 negara di dunia, antara lain Amerika, Eropa, Australia, Asia dan Timur Tengah.