Menggabungkan Kemewahan dan Energi: Menyelami Dunia Audio The Struts
-
Live Events
-
Live Sound & Event Production
FOH engineer John “J3” Allen dan monitor engineer Zach “Bear” Bair adalah arsitek audio di balik pertunjukan live The Struts yang memukau. Dengan perpaduan presisi, kreativitas, dan dukungan konsol Yamaha RIVAGE PM5, mereka mampu beradaptasi di setiap venue acara dengan apik. Mulai dari pemilihan mikrofon hingga penguasaan plugin, kerja tim dan gaya mixing emosional mereka mengangkat pertunjukan glam-rock band ini menjadi pengalaman yang imersif—yang membuktikan bahwa suara yang hebat berhubungan erat dengan rasa, sama halnya dengan teknologi.
Saat The Struts naik ke panggung, pertunjukan mereka bukan sekadar konser tetapi spektakel glam-rock utuh. Dengan frontman Luke Spiller yang membawakan gaya flamboyan Freddie Mercury dan band yang menyuguhkan suara yang memadukan gaya Stones dengan hentakan pop-rock modern, pertunjukan live mereka menampilkan kemahiran dari segi energi, karisma, dan dampak suara.
Namun di balik gemerlap dan energi panggung tersebut ada pengoperasian audio yang teliti dipimpin oleh dua engineer yang memiliki chemistry kuat dan gaya yang saling melengkapi sehingga keajaiban tersebut terjadi. FOH engineer John “J3” Allen dan monitor engineer Zach “Bear” Bair adalah tulang punggung suara dari mesin tur The Struts. Kemitraan mereka dibangun di atas kepercayaan, presisi, dan obsesi bersama terhadap kualitas suara—dan ini didukung oleh konsol Yamaha RIVAGE PM5 serta didukung oleh vendor yang berbasis di Nashville, Worley Sound.
Bersama-sama, mereka telah membangun rig yang ekspresif dan dinamis seperti band itu sendiri. Dan baik saat mereka melakukan mixing di Madison Square Garden atau di klub berkapasitas 800 orang yang penuh sesak, mereka melakukannya dengan perpaduan insting analog, ketelitian digital, serta sikap dan humor rock 'n' roll yang kental.
Pilihan Mikrofon yang Sangat Menentukan
Bagi J3, pemilihan mikrofon bukan hanya soal spesifikasi tetapi soal bertahan hidup. Tur dengan band yang sekeras dan seteaterikal The Struts berarti setiap mikrofon harus membuktikan kemampuannya. Strateginya berakar pada keandalan, kemampuan menolak noise (rejection), dan musikalitas.
Untuk vokal utama Luke, J3 sangat mengandalkan sE Electronics V7. “Kurvanya seperti 58 dengan output dan rejection yang lebih baik, serta pola pickup yang lebih rapat,” katanya. “Sangat cocok untuk panggung rock yang bising.” Itu bukan pujian sembarangan, mengingat Luke tampil sepenuhnya menggunakan monitor wedge dan side fill—serta tidak melakukan soundcheck.
John “J3” Allen saat pertunjukan.
Paket mikrofonnya kira-kira 60% sE, dengan tambahan model Sennheiser dan Shure untuk melengkapi kit. Namun di pengaturan gitarlah kreativitas J3 benar-benar bersinar. Rig Adam Slack mencakup tiga amplifier dan empat mikrofon, yang disusun dalam pasangan stereo yang dimasukkan dan dikeluarkan oleh J3 tergantung pada momennya.
“Saya bisa membentuk karakter tone gitar Adam tergantung momennya—agresif, lembut, untuk rhythm maupun lead. Semuanya bergantung pada alur emosi” jelasnya.
Salah satu trik favoritnya? Menggunakan bullet mic pada amplifier Magnatone berukuran kecil yang ia juluki sebagai “snot machine.” “Suaranya sangat indah ketika volumenya diturunkan dan suaranya menjadi lebih jernih,” ujar J3. “Saya bisa masuk dan keluar (mengatur intensitasnya) sepanjang pertunjukan.”
Kekuatan Plugin: Mixing In-the-Box yang Maksimal
Kedua engineer tersebut sepenuhnya mengandalkan metode in-the-box dan bangga akan hal tersebut. Rangkaian plugin RIVAGE PM5 memungkinkan mereka untuk meninggalkan rack outboard gear dan server eksternal, sehingga menyederhanakan alur kerja mereka tanpa mengorbankan kualitas suara.
Plugin favorit Bear antara lain Portico II Master Bus Processor (P2MB) dan SPX Amp Simulator (Amp Simulate). Plugin yang terakhir bahkan berawal dari sebuah “ketidaksengajaan” yang justru berubah menjadi sebuah terobosan.
“Kami sempat kesulitan mendapatkan tone bass Jed yang pas,” kenang Bear. “Saya mencoba menggunakan Amp Simulate sebagai eksperimen, dan ternyata menghasilkan kualitas suara yang benar-benar baru pada bass-nya. Sejak itu, saya tidak pernah kembali ke cara sebelumnya.”
Bear juga menggunakan reverb Eventide SP2016 untuk drum, dan reverb Bricasti Y7 untuk vokal Luke. Dengan menerapkan band-pass pada preset Vienna Hall Y7 untuk vokal Luke memberinya karakter unik yang terdengar jelas melalui monitor wedge tanpa menutup suara lainnya.
Bear setuju. Pernah bekerja sebagai teknisi konsol di Clair Global, ia sudah cukup sering melihat server plugin mengalami crash, sehingga ia sangat memahami pentingnya kesederhanaan. “Saya belajar untuk memaksimalkan tools yang saya miliki,” ujarnya. “Dan dengan RIVAGE PM, tools tersebut bekerja dengan sangat baik.”
Beradaptasi dengan Karakter Ruangan
Mulai dari klub berkapasitas 800 orang hingga teater dengan 3.000 kursi, The Struts melahap semuanya—dan J3 serta Bear beradaptasi sebagaimana mestinya.
“Ukuran panggung sangat memengaruhi kebocoran suara simbal ke mikrofon vokal. Kami bahkan menggunakan pelindung plexiglass untuk meredam suara simbal tersebut,” ujar J3.
Di venue acara yang lebih kecil, gaya visual band ini menghadirkan tantangan unik. J3 menjelaskan, “Saya tidak suka menghalangi pandangan ke pemain drum, Gethin Davies, jadi saya menggunakan underhead sebagai pengganti overhead. Dari segi suara ini memang tidak ideal, tetapi ini efektif untuk kebutuhan pertunjukan.”
Bear menambahkan, “Dengan plugin dari Yamaha, saya melakukan lebih sedikit penyesuaian dibandingkan dengan konsol saya sebelumnya. Hasil mixing-nya terdengar lebih konsisten di berbagai venue acara.”
Mereka juga menyeimbangkan kembali volume panggung, menyesuaikan decay reverb, serta mengatur level wedge agar sesuai dengan karakter setiap ruangan. Lalu, bagaimana saat ruangannya terlalu bergema?
“Saya matikan reverb-nya,” ujar J3 sambil tertawa. “Kita hanya akan membuat situasi buruk menjadi lebih buruk.”
Mixing untuk Emosi
Pertunjukan The Struts tidak hanya keras tetapi juga teaterikal. J3 dan Bear melakukan mixing bukan hanya untuk kejernihan suara, tetapi untuk menciptakan dampak emosional.
“Saat Luke bermain piano dan Adam melakukan solo, saya menambahkan reverb dan delay. Penonton yang tadinya bergerak aktifmulai diam dan benar-benar mendengarkan,” ujar J3.
Bear mengatur level mikrofon penonton untuk meningkatkan interaksi tanpa gangguan. “Luke senang mendengar penonton,” ujarnya. “Saya menaikkan level mikrofon audiens secara post-fader di jeda antar lagu untuk personel band lainnya, agar suara penonton tidak mengganggu iramanya.”
Dan ya, terkadang penonton bertepuk tangan tidak selalu sesuai tempo. Solusi Bear? Menambahkan lebih banyak hi-hat dan snare dalam mixing agar band tetap kompak.
Salah satu momen paling berkesan terjadi saat tur perayaan 10 tahun band tersebut, ketika mereka membawakan album debut mereka dari awal sampai akhir. “Kami menggunakan gitar akustik, balada piano, dan semua pergeseran dinamis ini,” kenang J3. “Hal itu memberi saya ruang untuk benar-benar membentuk mixing secara emosional. Itulah momen-momen yang sangat saya nantikan.”
Saran untuk Generasi Berikutnya
J3 dan Bear sangat bersemangat dalam membimbing para engineer muda. Saran mereka didasarkan pada pengalaman, kerendahan hati, dan beberapa pelajaran yang mereka peroleh dengan susah payah di lapangan.
J3 mendorong para engineer untuk mengikuti setiap peluang yang terbuka bahkan ketika mereka merasa masih belum siap. “Saya bisa sampai di sini secara tidak terduga,” ujarnya. “Percayalah saat hidup mengarahkan Anda ke suatu tempat. Dan bagikan pengetahuan Anda. Semakin banyak Anda memberi, maka semakin banyak pula yang akan Anda terima.”
Bear menekankan pentingnya koneksi dan perawatan diri. “Jangan takut untuk bertanya. Jadilah autentik. Dan jaga diri Anda secara fisik, mental, dan emosional. Itu sama pentingnya dengan tetap bertahan di industri ini.”
Dan jika Anda masih ragu untuk mengambil sebuah pekerjaan karena Anda merasa belum siap? Jawaban Bear sederhana: “Ambillah risiko itu. Anda akan berkembang seiring berjalannya waktu.”
John “J3” Allen saat pertunjukan.
Lokasi
Amerika




